Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
You are here
Home > News > Kota Bandung Menjadi Penyumbang Terbesar Sampah Untuk Bandung Raya

Kota Bandung Menjadi Penyumbang Terbesar Sampah Untuk Bandung Raya

Suasana di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Cipatat, Kabupaten Bandung, Senin (21/1/2019).

Kabaraya.com – Sampah merupakan permasalahan serius yang dihadapi wilayah Bandung Raya. Hasil perhitungan berdasarkan data yang saya dapat di Internet, menunjukkan produksi sampah dari Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung mencapai 3.950 ton/hari. Sementara yang bisa diangkut, hanya 2.750 ton/hari. Salah satu produksi jenis sampah cukup besar yakni dari sampah plastik, yang keberadaannya juga kerap menjadi pemicu banjir setelah menyumbat aliran sungai.

Meski ditunjang label Smart City, Kota Bandung nampaknya masih kesulitan menangani sampah. Rencana penggunakan teknologi insenerator di tempat pembuangan akhir Sarimukti tak kunjung dibangun karena dianggap mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat. Selajutnya, teknologi biodigester dari Jepang pun digagas, tapi tidak terwujud. Akibatnya, sampah menjadi masalah yang tak kunjung tuntas.

Terlihat warga sekitar sedang memilah sampah yang bisa diolah kembali atau yang layak jual di (TPA) Sarimukti, Cipatat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

“Ada 11 teknologi pengolahan sampah yang sedang kami kaji,” kata Dirut PD Kebersihan Kota Bandung, Deni Nurdyana Hadimin, baru-baru ini. Menurut dia, belum idealnya pengolahan sampah disebabkan banyak faktor. Salah satunya adalah, tidak terbangunnya political will pemerintah. Pemerintah masih beranggapan bahwa pengelolaan sampah itu murah. Padahal, estimasi dana menjadi kendala utama dalam pola distribusi.

“Anggaran Kota Bandung untuk sampah Rp108 miliar. Dana tersebut termasuk biaya operasional, transportasi, penggunaan lahan, hingga pengolahan sampah. Idealnya, untuk (Bandung) bersih, biaya pengolahan sampah skala kota metropolitan dikisaran Rp140 miliar,” jelasnya.

Aktivitas memilah sampah yang terjadi pada pagi hari di kawasan (TPA) Sarimukti, Cipatat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Lima tahun lalu, Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan (KLHK) menemukan pola pengelolaan sampah di Indonesia berdasarkan hasil studi yang dilakukan di beberapa kota seperti diangkut dan ditimbun di TPA (69%), dikubur (10%), dikomposkan dan didaur ulang (7%), dibakar (5%), dan sisanya tidak terkelola (7%). Saat ini, lebih dari 90% kabupaten/kota di Indonesia masih menggunakan sistem open dumping.

Menurut Undang-Undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, paradigma pengelolaan sampah harus dirubah dari kumpul-angkut-buang menjadi pengurangan di sumber dan daur ulang melaui prinsip 3R (reduce, reuse, recycle).

Sumber : Tirto.id

Dalam hal masalah sampah plastik ini tentu tidak baik jika kita saling menuduh siapa yang salah dan siapa yang benar. Sebagai modal awal, yang perlu ditanamkan kepada kesadaran diri kita masing – masing adalah untuk lebih peduli terhadap kebersihan dan jika bisa menerapkan diet menggunakan kantong plastik.

 

Sumber : Tirto.id, Sosial media

Penulis : Ananda Rizal Ramdhani – Kabaraya.com

 

 

Leave a Reply

Top