Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
You are here
Home > News > BAHAYA SAMPAH PLASTIK

BAHAYA SAMPAH PLASTIK

Senin pagi, Tahun 2018 menjadi hari yang menyayat hati. Tim World Wildlife Fund Indonesia (WWF Indonesia) menemukan bangkai paus sperma (Physeter microcephalus) terdampar di perairan Pulau Kapota, Sulawesi Tenggara, Senin, 19 November 2018. “Badannya sudah mulai hancur. Beratnya sudah tak lagi terukur,” kata Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Heri Santoso, saat itu.

Bau amisnya ia gambarkan seperti dibawa angin laut yang berkesiur. Yang paling menyakitkan: timbunan sampah plastik bersarang di dalam perut mamalia laut sepanjang 9,5 meter dengan lebar 4,3 meter itu.

Pada hari penemuan bangkai paus tersebut, WWF Indonesia mencuit,

Paus malang tersebut menelan kiloan sampah plastik karena dikira makanan. Paus sperma merupakan jenis binatang yang tak bisa memilah makanan. Jadi, apa pun yang ada dihadapannya akan dilahap dengan senang hati.

Tragedi paus sperma di Wakatobi itu bukan yang pertama. Setidaknya ada 1,1 juta hewan laut di dunia mati setiap tahunnya akibat sampah plastik. Baik itu karena disangka sebagai makanan, maupun terjebak dalam gumpalan plastik. Jumlah plastik yang memasuki lautan tiap tahunnya sangat mengerikan: 8 juta ton per tahun.

Tragedi paus pemakan plastik itu kian meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Sebuah polling daring dari Orb Media–lembaga media nirlaba berbasis di Amerika Serikat yang bergerak di bidang pembangunan global–menunjukkan seperempat dari 42 ribu orang di 30 negara sangat khawatir atas dampak buruk plastik terhadap bumi.

Sumber : Orb Online Survey
Sumber : Orb Online Survey

Sampah plastik di laut tidak hanya berdampak buruk bagi satwa laut. Tentunya, juga manusia. Plastik mengandung bahan berbahaya, seperti phthalates, flame retardants, bisphenol-A (BPA), pestisida, poliklorin bifenil (PCB), dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Sederet zat itu mengandung racun yang berpotensi membangkitkan sel kanker di tubuh kita. Racun mikroplastik tersebut sering tertelan ikan, yang akhirnya dimakan manusia.

Sebelumnya, pada Maret lalu, Orb Media melaporkan bahwa air mineral botol mengandung potongan-potongan mikroplastik yang ikut masuk ke dalam tubuh. Itu terungkap dari pemeriksaan air mineral dalam kemasan di laboratorium. Belakangan, mikroplastik juga terungkap bersarang di air minum kemasan di Jerman dan Afrika Selatan. Peneliti juga menemukan bahwa minuman soda di Italia mengandung mikroplastik.

Sama seperti plastik biasa, mikroplastik juga merupakan polutan bagi lingkungan. Bahkan, lebih berbahaya karena wujudnya yang hampir tak kasat mata. Riset pada 2017 mengungkap, setiap pencucian lima kilogram kain berbahan polister dapat menghasilkan enam juta partikel mikroplastik. Jutaan mikroplastik itu kemudian terbawa ke dalam limbah air dan bercampur dengan air tanah.

WWF Indonesia
WWF Indonesia

Salah satunya produk kemasan makanan. Produk inilah yang bersinggungan langsung dengan sistem pencernaan kita. Baru-baru ini, sebuah penelitian menemukan wadah makanan plastik menggunakan enam bahan kimia yang berbahaya. Keenamnya, yaitu Di (2-ethylhexyl) Phthalate (DEHP), Benzyl Butyl Phthalates (BBP), Dibutyl Phthalate (DBP), Musk Xylene, Hexabromocyclododecane (HBCD), dan Malondialdehid (MDA). Padahal, sebelumnya enam bahan kimia tersebut telah dilarang oleh Uni Eropa karena terbukti beracun. Bahan-bahan kimia itu dilarang terutama untuk mainan anak dan peralatan rumah tangga.

Tak bisa dipungkiri penggunaan plastik telah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari baju, perabotan, hingga obat-obatan menggunakan plastik baik sebagai kandungan maupun wadah. Orb Media juga melakukan survey mengenai tindakan yang seharusnya dilakukan untuk mengurangi limbah plastik.

Sumber : Orb Online Survey

Indonesia tampaknya tak mau ketinggalan dari Kenya. Pemerintah berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik di laut hingga 70 persen pada 2025. Berbagai upaya sudah dilakukan. Di antaranya, yaitu menjaga sampah plastik di darat tak mengalir ke laut; menekankan upaya daur ulang; dan, mengubah pola pikir masyarakat untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai.

Sejak 1 Desember 2018 Pemerintah memberlakukan peraturan yang melarang tempat-tempat perbelanjaan menyediakan kantong plastik. Sebelumnya, Pemerintah telah melakukan kebijakan plastik berbayar. Kebijakan itu telah diujicoba pada 2016 dan berlaku secara nasional. Tapi, program ini mendapat protes dari para pengusaha ritel.

Semua itu demi bumi, umat manusia, paus, dan seluruh ekosistem yang ada di lautan.

Selasa, 20 November 2018, bangkai paus sperma di Wakatobi siap dikuburkan agar bau amis tidak kian menyengat. Sebelumnya, bangkai dipotong menjadi dua bagian, badan dan kepala. Menggunakan speed boat, kedua bagian itu ditarik ke Pantai Watululu yang tak jauh dari lokasi terdampar. Kemudian, 50 orang menarik bangkai ke lubang yang telah disiapkan. Kerangkanya terlebih dahulu dipisahkan. (Galang Achmad)

Sumber :

WWF Indonesia (https://twitter.com/WWF_ID)

OrbMedia (https://orbmedia.org)

 

 

 

Leave a Reply

Top