Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
You are here
Home > Wisata > MENILIK SEJARAH HOTEL SAVOY HOMANN DI KOTA BANDUNG

MENILIK SEJARAH HOTEL SAVOY HOMANN DI KOTA BANDUNG

Bandung kota yang juga dikenal dengan sebutan Paris Van Java itu merupakan salah satu kota yang memiliki sejarah yang sangat kental. Ibu kota dari Provinsi Jawa Barat tersebut memiliki begitu banyak peninggalan sejarah dan salah salah satu peninggalan sejarah tersebut adalah gedung-gedung atau bangunan tua yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Jika kita berkunjung ke Jl. Asia-Afrika serta Jl.Braga maka kita akan menemukan beberapa bangungan tua yang bersejarah.

Di kawasan Asia- Afrika tepatnya di jalan Asia-Afrika No.112  berdiri salah satu bangunan tua yang memiliki design Art Deco, bangunan tersebut adalah Hotel Savoy Homann.. Hotel yang dulunya hanya bernaha Hotel Homann adalah hotel milik keluarga Homann, hotel ini terkenal dengan sanjian Rijsttafel buatan Ibu Homann yang sangat lezat.

Bangunan hotel Savoy Homann dibangun pada tahun 1880, berdasarkan meetbrief dari akte-akte eigendom yang tercantum dalam gambar sketsa hotel tersebut. Hotel ini adalah miliki seorang berkewarganegaraan Jerman yaitu Mr.A.Homann.

Hotel ini dibangun diatas seluar 10.074 m2 dengan luar bangunan 11.185 luas bangunan dihitung dengan mempertinbangakan tingkatan bandunan. Hotel ini dikelola oleh Fr.J.Van Es yang juga merupakan orang yang mengola hotel Des Indies di Batavia delama lima tahun. Hotel Savoy Homan adalah hotel yang terkenal pada masanya. Hotel in memperoleh kepercayaan dari pemerintah sebagai tempat terselenggaranya beberapa kenferensi tingkat internasional, seperti konferensi Asia-Afrika, Konferensi P.A.T.A., konferensi Islam Asia-Afrika, dan lain-lain.

Awalnya hotel Savoy Homann merupakan sebuah rumah dari bilik bambu yang digunakan sebagai tempat penginapan. Waktu itu hanya ada sekitar tujuh rumah berdinding tembok yang terdapat di Bandung. Beberapa tahun kemudian rumah itu banguna itu dirumah menjadi bangunan setengah tembok. Pada tahun 1870 keluarga Homann pindah ke kota Bandung saat itu diberlakukannya hokum agraria yang mengijikan perusahaan swasta atau peseorangan memiliki tanah garapan atau kebun. Kemudian keluarga Homann merubah rumahnya menjadi tembok seluruhnya.

Pada tahun 1880 sebelum menjadi hotel Savoy Homann hotel ini bernama Hotel Post Road dengan gaya arsitektur Baroq kemudian terjadi perubahan gaya bangunan menjadi Gothic Revial pada tahun 1883. Pada tahun 1910 terdapat penambahan gedung pada hotel ini, kemudian pada awal 1938 hotel ini mengalami kembali perombakan gaya bangunan yang sebelumnya bergaya Gothic Revial menjadi begaya Art Deco dan arsitekrutnya dikerjakan oleh A.F. Aarlbers dan R.A. De Wall dan bangunan bergaya Art Deco tersebut bertaha hingga saat ini. Pengelolaan hotel tidak lagi dilakukan oleh keluarga Homann namun diambil alih oleh Fr.J. Van Es.

Pada Periode 1942 – 1945 hotel ini sempat digunakan sebagai wisma pasukan jepang. Setelah Jepang masuk hotel ini beralih fungsi menjadi wisma opsir pasukan Jepang, pada saat itu tejadi kerusakan pada fasilitas hotel. Kemudian pada tahun 1945 hotel Savoy Homann diserahkan kepada pihak Belanda dan berubah fungsi menjadi markas besar Palang Merah Internasional. Setelah satu tahun kemudian diserahkan kembali kepada Van Es, dan ia merubah kembali fungsinya menjadi hotel. Van Es mengelola hotel hingga ia menutup mata pada tahun 1952.

Setelah Van Es wafat pengelolaan hotel diserahkan kepada istrinya yaitu Van Es van De Brink. Tidak berapa lama mengelola hotel Van De Brink memutuskan untuk pulang ke Belanda dan ia menjual enam puluh persen sahamnya kepada keluarga RHM Saddak yang merupakan anggota DPR RI sekaligus Direktur Firma bidang Ekspor-Impor Saddak and Co.

Tahun 1987 Saddak menjual kembali saham hotel kepada HEK Ruhiyat yang merupakan pemiik hotel Panghegar, Bandung. Pada tahun 2000 Ruhiat memutuskan untuk berkonsentrasi kepada pengurusan hotel Panghegar dan ia menjual delapan puluh sembilan saham hotel Savoy Homann kepada Bidakara Group, oleh karena itu hingga saat ini hotel Savoy Homann memiliki nama Savoy Homann Bidakara Hotel.

Berdasarkan buku Savoy Homann Hotel yang disusun oleh Haryanto Kunto, pada tahun 1884 turis yang datang ke Bandung makin banyak. Hotel Homannpun kebanjiran tamu karena saat itu perjalanan dengan kereta dari Batavia menuju Bandung sudah dibuka dan orang-orang butuh tempat untuk singgah salama berapa di kota Bandung. Hotel Savoi Homann juga pernah dijadikan kongres Teh sedunia dan Kongres Ilmiah Fasifik IV. Beberapa orang ternama seperti pemain film HollyWood Charlie Chaplin, Mary Pickford pernah menginap di hotel ini.

Terlepas dari beberapa kali mengalami perubahan gaya bangunan, perubahan fungsi, serta perubahan pemilik hotel Savoy Homann tetap berdiri tegat hingga saat ini. Hotel ini menjadi saksi bisu sejarah kota Bandung.

Team Jurnalis

 

Penulis :

Moch Arief Septiansyah         41817011

Jose Kalibato                          41817022

Septian Hidayat                      41817024

Mahendra                                41817026

Abiyu Qhalifah Husna             41817032

Gita Parera                              41817034

Leave a Reply

Top